Semesta Raya: Bagian Satu

Sumber: Detik.com

Bagian 1: Hujan Paling Tahu

Aku Raya. Orang-orang bilang nama adalah doa dan orang tua ku memberi nama ini karena berharap alam semesta raya selalu berpihak dan mendukungku. Apakah doa orang tua ku terwujud? Bisa dibilang begitu. Pernah sekali aku mengikuti lomba menyanyi walaupun sebenarnya aku buta nada. Itu semua karena setiap kelas harus memiliki satu perwakilan untuk ikut berpartisipasi dalam lomba menyanyi antar kelas. Aku tetap memilih lagu kesukaan ku, How Deep Is Your Love, meskipun nadanya tak akan sama. Saat giliranku, tiba-tiba hujan deras turun bersama gemuruh petir dan aku tetap bernyanyi seadanya. Suara hujan dan petir sudah pasti mengalahkan suaraku. Tentu aku tidak menang, tetapi setidaknya tak ada yang tahu bagaimana suara ku saat bernyanyi.  

Ada lagi, kejadian ini baru terjadi satu minggu yang lalu. Saat itu aku baru selesai ujian dadakan, hasilnya tidak perlu ditanya. Seluruh kelas pun tidak ada yang berhasil mendapatkan nilai 50, kecuali aku. Saat diperjalanan pulang aku masih memegang kertas itu dan memikirkan cara tepat menyelesaikan nya. Mungkin aku terlalu lelah, kertas yang belum lama ku baca itu tiba-tiba terbang melayang. Ya, ada baiknya juga. Sejauh apakah semesta akan mendukungku?

Menurut ramalan cuaca, hari ini harusnya matahari yang jadi pemeran utamanya. Namun, siapa sangka hujan datang tanpa permisi, seolah ikut membawa perasaan yang tak bisa kuhindari. Langkah ku akhirnya terpaksa terhenti di sebuah halte bus. Rintik hujan terus membasahi ujung sepatuku. Kaki ku rasanya ikut tergenang, seperti menggunakan kaos kaki berbahan air. 

Namun, sedari tadi bibirku tidak bisa berhenti tersenyum seperti bulan sabit terbalik. Genangan air di depan kaki seolah mencerminkan senyumku yang tak mampu kutahan. Seolah paling tahu seberapa lebar senyum itu. Aku hanya menunduk menyembunyikannya.

Rintik yang jatuh dan dia yang berdiri di sebelah ku, hujan tahu betul bagaimana perasaan ku saat itu. Bumi Harsa, itu sosok yang disebelahku. Rasanya aku ingin berlari menerobos titik-titik air dan menari. Rintik hujan di atap jadi saksi bisu keheningan di antara kami. Suara itu menenggelamkan detak jantungku yang semakin cepat, seperti sebuah rahasia yang ingin kuungkapkan, namun terperangkap dalam gemericik air yang tak pernah berhenti.

Tidak ada yang memulai percakapan, tidak akan ada yang memulai. Aku cukup berterima kasih pada hujan, mata ku tak akan mungkin mampu melihatnya dari dekat jika bukan karena genangan yang dibuatnya. Aku cukup bersyukur pada keheningan ini, tidak pernah terlintas dibenakku untuk berbicara dengannya, biar suara rintik saja yang menyampaikan nya.  Seketika

perasaan bahagia ku perlahan sirna, seperti hujan yang perlahan mereda. Aku tak tahu apa penyebabnya. Apakah karena hujan tak punya air lagi yang bisa diturunkan? Atau karena perasaan yang selalu aku pendam mulai menyiksa diriku?.

Aku tahu betul hujan tak akan selamanya memberikan aku kesempatan ini. Seketika aku berharap agar setelah hujan pergi, matahari yang akan memberiku kesempatan lain. Entah mengapa aku mulai banyak berharap. Aku ingin merayakan hujan ini lebih lama, tapi aku yakin, maupun aku dan dia, kita sama-sama menunggu matahari yang sama bersinar.

Hujan benar-benar mereda, pikiran ku masih penuh, bercampur aduk dengan perasaan ku yang aneh ini. Mungkin suatu saat nanti ada waktu dimana perasaan ini juga akan mereda dan hilang seperti hujan hari ini. “Hujannya sudah berhenti, gamau lanjut jalan?” suara lembut itu tiba-tiba memecahkan bising di otak ku. Belum sempat menjawabnya, aku hanya terdiam saat dia mulai berjalan menjauh. Hujan memang paling tahu perasaanku. Dia datang tanpa kata, memberi aku ruang untuk merasa, lalu pergi begitu saja. Dan aku, seperti hujan, tahu bahwa perasaanku ini tak akan bertahan selamanya.

Penulis: Sauramaniya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *